Insights dari Focus Group Discussion (FGD) “Strategi Pemberdayaan Masyarakat Sensitif GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) dalam Ekowisata Berkelanjutan”

Pengembangan ekowisata berkelanjutan tidak hanya berorientasi pada konservasi lingkungan dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada keadilan sosial dan inklusivitas. Pendekatan Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) menjadi krusial untuk memastikan bahwa seluruh kelompok masyarakat, perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya memiliki akses, partisipasi, kontrol serta manfaat yang adil dalam ekowisata. Sebagai salah satu program riset DAPT EQUITY DUDI 2025-2026 Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor, melalui tim peneliti yang diketuai oleh Dr. Siti Amanah, beranggotakan Sriwulan F. Falatehan, M.Si., Titania Aulia M.Si., dan Ghilandhy Ramadhan, M.Sc, dari  Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (SKPM) dengan EIGER Adventure Land sebagai mitra yang dikoordinasikan oleh Een Irawan Putra, MSi, menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan pada Rabu, 13 Mei 2026 bertempat di Visitor Centre Eiger Adventure Land, Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor dengan mengangkat tema “Strategi Pemberdayaan Masyarakat Sensitif GEDSI dalam Ekowisata Berkelanjutan.” Tiga mahasiswa Pascasarjana juga terlibat dalam FGD sekaligus sebagai asisten peneliti, yakni Arista Nurmuhjaning, SP., Wulan Ali Rahim, SP., dan Priyandi Prawiro, Shut.

Selain tim peneliti, FGD dihadiri oleh perwakilan dari Kantor Kecamatan Megamendung, Kantor Desa Sukagalih, Dinas Pariwisata Kabupaten Bogor, Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Anak dan Keluarga Berencana Kabupaten Bogor, serta Ketua RT 5 RW 4 Desa Sukagalih sebagai perwakilan masyarakat yang berada di sekitar kawasan  ekowisata, dan LSM REKAM yang aktif dalam edukasi masyarakat dalam penanganan sampah secara tepat. Forum FGD ini merupakan ruang dialog strategis untuk menyatukan perspektif, memperkaya analisis, serta merumuskan arah aksi yang efektif, kontekstual dan implementatif pemberdayaan masyarakat yang sensitif GEDSI dalam ekowisata berkelanjutan.

Kawasan sekitar EIGER Adventure Land (EAL) sedang bertransformasi secara sosial, ekonomi, dan lingkungan. Pendekatan rehabilitasi lahan dan ekowisata berkelanjutan memberikan kontribusi dalam mengurangi resiko longsor dan banjir di kawasan hulu. Ekowisata yang dikelola membuka peluang kerja dan turut memperkuat ekonomi lokal serta meningkatkan ketahanan sosial masyarakat.

Setidaknya terdapat beberapa poin-poin krusial dan perlu ditindaklanjuti oleh multipihak. Pertama, berkaitan dengan penguatan produk hasil usaha UMKM setempat yang bernilai ekonomis serta pengurusan perizinan perusahaan industri rumah tangga (P-IRT). Kedua, penguatan budaya/kearifan lokal yang selama ini sudah secara turun temurun ada di Desa Sukagalih ataupun Kecamatan Megamendung secara umum yang bisa dilakukan dengan mengadopsi konsep Desa Wisata Alam. Ketiga, peningkatan kapasitas dan kelembagaan yang dapat dilaksankan dalam bentuk edukasi penanganan sampah/limbah rumah tangga yang juga menjadi salah satu isu lingkungan utama di sekitar area tapak kegiatan. Keempat, penguatan unsur GEDSI yang mencakup kemudahan masyarakat lanjut usia (lansia) dan perempuan sekitar kawasan operasional EIGER Adventure Land dalam mengakses informasi, ketersediaan sarana prasarana yang ramah terhadap disabilitas, dan kesetaraan dalam peluang berusaha dan kesempatan kerja.

Kolaborasi multipihak pola Pentahelix sangat diperlukan untuk menyukseskan pemberdayaan masyarakat sensitif GEDSI. Dalam hal ini akademisi berperan sebagai mediator yang berperen menjembatani multipihak (pemerintah, swasta, masyarakat, dan lembaga swadaya masyrakat/media) melalui studi, penelitian, program pengabdian, kemitraan yang memfasilitasi dialog, serta perumusan strategi berbasis bukti. Pemerintah perlu  inisiasi dan hasil riset ini melalui melalui kebijakan, regulasi, dan program. Di sisi lain, swasta membuka akses pasar dan menjalin kemitraan, dan masyarakat harus mampu mengorganisir kelompok yang menghasilkan produk/jasa yang tepat. Kerjasama dan sinergi multipihak tidak hanya memperkuat ekowisata, tetapi juga mendorong diversifikasi usaha berbasis potensi lokal sehingga masyarakat memiliki alternatif sumber nafkah yang lebih berkelanjutan dan tidak bergantung pada ekowisata semata.