SIMPOSIUM REGIONAL “Mapping and Assessing University-based Farmer Extension Services in ASEAN through an Agro-ecological/Organic Lens”

SIMPOSIUM REGIONAL
“Mapping and Assessing University-based Farmer Extension Services in ASEAN through an
Agro-ecological/Organic Lens”

Pada Kamis (23/02), Dr Siti Amanah (Dosen Dept. SKPM FEMA IPB dan Dosen Pascasarjana PS Ilmu Penyuluhan Pembangunan (PPN) IPB disertai salah satu mahasiswa S3 PPN IPB, Epsi Euriga, M.Sc dari STPP Yogyakarta, Kementerian Pertanian, mengikuti Simposium “Mapping and Assessing University-based Farmer Extension Services in ASEAN through an Agro-ecological/Organic Lens” di auditorium utama Chulalongkorn University, Bangkok. Penyelenggara utama acara ini adalah Chulalongkorn University UNISEARCH Fund (“ASEAN Cluster” Project Grant). Simposium ini merupakan kesempatan untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan dari seluruh kawasan ASEAN dan dihadiri lebih dari 38 peserta, termasuk focal point dari Thailand, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Kamboja, Laos, Vietnam, dan Filipina. Acara ini terdiri dari tujuh sesi formal dan satu sesi informal (informal networking dan makan malam).
Simposium ini dilatarbelakangi oleh adanya kekhawatiran akan berkembangnya pertanian modern atau sering disebut sebagai pertanian konvensional yang dilaksanakan dalam skala industri pertanian dengan fokus pada satu jenis komoditi. Hal tersebut menjadi salah satu kontributor terbesar dalam permasalahan lingkungan global: pencemaran, penggundulan lahan, penebangan hutan, kemarau, semakin berkurangan sumber air, pengalihan air, menurunnya biodiversitas, degradasi lahan dan banyak lagi. Pertanian juga berkontribusi terhadap meningkatnya efek perubahan iklim. Industri pengolahan produk pertanian yang menggunakan zat kimia masih belum dapat memenuhi kebutuhan pangan dan keamanan nutrisi bagi 800 juta orang miskin di dunia yang sebagian besar adalah masyarakat pedesaan, termasuk sekitar 60 juta di antaranya berada di Asia Tenggara.

Bagaimana peran universitas dalam mengatasi permasalahan tersebut melalui pelayanan penyuluhan di kalangan petani? Chulalongkorn University School untuk Sumberdaya Pertanian (CUSAR) mencoba menjawab pertanyaan ini melalui penelitian satu tahun yang disebut “Mapping and Assessing University-based Farmer Extension Services in ASEAN through an Agro-ecological/Organic Lens” dengan dukungan dari Chulalongkorn University UNISEARCH Fund (“ASEAN Cluster” Project Grant); Agroecology Learning alliance in South East Asia (ALiSEA); United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO); dan Chula’s ASEAN Studies Center (ASC). Tujuan utama penelitian ini tersebut antara lain adalah : (1) mengetahui peran universitas dalam memperbaiki ataupun memperburuk lingkungan ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan dan tantangan pembangunan pertanian di ASEAN dan berkontribusi untuk transformasi sosial atau pedesaan, (2) memahami melalui bukti empiris kuantitatif dikombinasikan dengan analisis kualitatif yang baik, bagaimana, mengapa dan tingkat derajat universitas Asia Tenggara dalam menghambat atau mendukung pendekatan agro-ekologi dan organik dalam kegiatan pengajaran, penelitian dan penyuluhan, (3) memberikan kebijakan, program, dan rekomendasi kurikulum untuk pendidikan di masa depan, layanan penelitian dan penyuluhan dan perencanaan pembangunan pedesaan dalam menanggapi kesenjangan persepsi pengetahuan dan kapasitas.

Hasil awal dari studi kasus nasional dipresentasikan pada simposium regional ASEAN pada 23 Februari 2017 di Bangkok dan direncanakan akan diedit dan diterbitkan dalam sebuah buku berkualitas baik dari prosiding lokakarya. Simposium regional dimulai dengan pembukaan acara selamat dating oleh tuan rumah dari beberapa elemen Chulalangkorn University dan Department of Agricultural Extension (DOAE), Ministry of Agriculture and Cooperatives (MOAC), Kerajaan Thailand. Dalam pembukaan ini juga disampaikan mengenai Kebijakan DOAE’S Tahun 2017. Sesi pertama mendiskusikan konteks proyek, isu teoritis dan regional ASEAN/MEKONG: perspektif dalam pendidikan pertanian dan jaringan penyuluhan. Spisiakova (APAARI) menyampaikan bahwa jaringan regional memainkan peran aktif untuk advokasi dan manajemen pengetahuan dalam mendukung layanan penyuluhan dan meningkatkan kerjasama selatan-selatan di area ini. Ferrand (ALiSEA) menyampaikan analisis mengenai tren umum regional MEKONG dalam hal kebijakan untuk mendukung agroekologi dan juga beberapa rekomendasi untuk transisi agroekologi. Cardenas (GFRAS) menyatakan bahwa uji coba dan adaptasi alat dan pendekatan yang dilakukan GFRAS dengan sistem penyuluhan berbasis universitas adalah sebuah kesempatan untuk memulai pembelajaran penyuluhan yang baru (The New Extension Learning Kit).

Pada sesi kedua, focal point dari MALAYSIA, MYANMAR, dan THAILAND menyampaikan studi kasus dari masing-masing negara tersebut. Focal point dari Malaysia menggarisbawahi bahwa institusi pendidikan tinggi terutama universitas telah memiliki inisiatif untuk tidak hanya memberikan pendidikan bagi mahasiswanya namun juga terlibat dalam penelitian, layanan pengembangan dan penyuluhan agroekologi atau pertanian organik. Focal point dari Myanmar menyampaikan bahwa terdapat perkembangan yang signifikan dalam hal jumlah lulusan dari pertanian dan orang-orang yang memiliki pengetahuan pertanian mempublikasikan tulisan buku-buku teknis dan artikel dalam jurnal dan majalah dengan bahasa Myanmar, mereka juga menyebarluaskan melalui berbagai saluran informasi. Meskipun demikian hanya sedikit penelitian mengenai agroekologi, sistem pertanian dan pangan organik yang dilakukan oleh fakultas dan mahasiswa dalam area spesifik seperti pupuk organik, systematic rice intensification (SRI), alternative wet & dry system (AWD) dan integrated pest management (IPM). Focal point dari Thailand menyampaikan bahwa institusi pendidikan tinggi seperti universitas merupakan sumber utama dalam membangun kapasitas intelektual dan produksi pengetahuan yang memainkan peran utama yang signifikan dalam berbagai aspek pengembangan nasional dan sektor pertanian di Thailand.

Pada sesi ketiga, focal point dari KAMBOJA, LAOS dan VIETNAM menyampaikan studi kasus dari masing-masing negara tersebut. Focal point dari Kamboja mengindikasikan bahwa saat ini cakupan dan dampak institusi pendidikan tinggi dalam menyediakan layanan penyuluhan dan penelitian pertanian masih sangat minim dikarenakan panduan strategi dan alokasi biaya yang sangat terbatas. Focal point dari Laos menemukan bahwa terdapat hubungan antara Kementerian Pertanian dan Kehutanan Laos dengan universitas dalam mendukung agroekologi atau pertanian organik di Laos. Universitas memiliki fokus pada penelitian dan pengembangan inovasi pertanian serta memberikan pelayanan akademik pada pengembangan komunitas. Promosi pertanian organik mengalami kendala dalam hal biaya produksi yang tinggi, pasar yang terbatas dan sistem sertifikasi. Focal point dari Vietnam menyimpulkan bahwa semakin banyak jaringan untuk pendanaan penelitian dan layanan penyuluhan akan memperkuat pengetahuan praktis bagi para dosen dan peneliti universitas sehingga pengajaran makin efektif dan menarik bagi mahasiswa.

Pada sesi ke-empat, Focal point dari INDONESIA dan FILIPINA menyampaikan studi kasus dari masing-masing negara tersebut. Focal point dari Indonesia menyatakan bahwa universitas memainkan peran yang penting untuk mendukung keberlanjutan pertanian karena sebagai institusi, universitas memiliki mandate untuk melakukan penelitian agar memperoleh pengetahuan dan teknologi sekaligus menempatkan teknologi dan inovasi tersebut dalam hal praktis melalui layanan penyuluhan kepada petani berbasis pendekatan komunitas. Pelayanan penyuluhan berbasis universitas harus diperkuat karena terbatasnya dukungan pendanaan. Dr Siti Amanah dan Epsi Euriga dalam sesi ini menyajikan hasil penelitian yang berjudul “Challenges and Opportunities for Universities-based Agricultural Extension Services from an Agro-ecological/Organic Perspective: the Case of Indonesia.” Dari hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa dukungan dari seluruh stakeholder memiliki korelasi positif yang signifikan terhadap persepsi bahwa agroekologi/pertanian organik merupakan solusi terbaik bagi keberlanjutan ekosistem dan kesejahteraan manusia. Analisis SWOT menunjukkan bahwa penyuluhan pertanian berbasis universitas memiliki kekuatan tertinggi dalam jumlah mahasiswa yang potensial untuk melaksanakan layanan penyuluhan, memiliki kelemahan dukungan dana yang kurang, dengan ancaman produk pertanian berbasis kimia yang lebih menarik petani sehingga petani menunda menerapkan pertanian organik. Kesempatan yang paling memungkinkan adalah dengan memperkuat kolaborasi antara universitas dan stakeholder terkait untuk mempromosikan, mengadakan joint research dan pengembangan pelayanan penyuluhan pertanian dan pertanian organik. Focal point dari FIlipina menyampaikan bahwa agen penyuluhan berbasis universitas memiliki keterbatasan anatara lain pengetahuan yang masih belum memadai, ahli keilmuan masih sedikit, dukungan teknis ke petani tentang pertanian organik masih kurang kecuali yang menginisiasi pergerakan pertanian organik.

Dari sesi kelima (refleksi akhir) dan sesi ke-enam (kesimpulan dan langkah berikutnya) menghasilkan kesimpulan bahwa penyuluhan berbasis universitas seharusnya tidak hanya focus kepada petani namun melibatkan seluruh stakeholder termasuk didalamnya pembuat kebijakan (pemerintah), peneliti, industry, pendidik, petani dan konsumen/pelanggan. Rekomendasi tindakan nyata untuk memperkuat penerapan pertanian agroekologi/ organik oleh petani tidak dapat digeneralisir karena setiap negara memiliki permasalahan dan kondisi yang spesifik. Kolaborasi sangat diperlukan untuk memberikan solusi nyata melalui jaringan internasional penyuluhan berbasis universitas. Pada akhir acara, publikasi prosiding simposium telah disetujui oleh partisipan untuk diterbitkan. Simposium diakhiri dengan acara jaringan informal dan makan malam sebagai penutupan. (Diresume oleh: Epsi Euriga)

Lampiran 1. SYMPOSIUM PROGRAM

1. Welcome and Opening Host Remarks

• Associate Professor, Dr. Kanisak Oraveerakul, DVM, Ph.D., Dean, Chulalongkorn University, School of Agricultural Resources (CUSAR), THAILAND
• Professor Kiat Ruxrungtham, M.D., Vice President for Research and Innovation Chulalongkorn University
• Asst. Prof Dr. Jakkrit Sangkhamanee, PhD. Department of Sociology & Anthropology and Member, Executive Committee, ASEAN Studies Center (ASC) Chulalongkorn University
• Mr. Somchai Charnarongkul, Director General, or Representative, Department of Agricultural Extension (DOAE), Ministry of Agriculture and Cooperatives (MOAC), Kingdom of Thailand

2. SESSION ONE: Project Contexts, Theoretical Issues and ASEAN/MEKONG Regional: Perspective on Agriculture Education and Extension Networks

MODERATOR & RESPONDENT: Mr. Aziz Arya, Policy and Programme Officer, Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), Principal Regional Office for Asia and the Pacific (PROAP), Bangkok.
• Dr. Wayne Nelles, Visiting Scholar, Chulalongkorn University School of Agricultural Resources (CUSAR), Bangkok, THAILAND
• Mr. Pierre Ferrand, Regional Coordinator, Agroecology Learning Alliance in South East Asia (ALiSEA) and Mekong, Regional Office, Vientiane, LAOS; with Dr. Htet Kyu, ALiSEA National Coordinator for Myanmar.
• Dr. Virginia Cardenas, Global Forum for Rural Advisory Services (GFRAS), Coordinator, Asia-Pacific; and Dean of College of Public Affairs, University of the Philippines Los Baños (UPLB)
• Ms. Martina Spisiakova, Knowledge Management Coordinator, Asia-Pacific Association of Agricultural Research Institutions (APAARI), Bangkok, THAILAND

3. SESSION TWO: National Case Studies (1), Focal Point Teams – MALAYSIA, MYANMAR, and THAILAND,

MODERATOR & RESPONDENT: Dr. Narumon Hinshiranan, Representative of the Director, Chulalongkorn University Social Research Institute (CUSRI)
• MALAYSIA: Dr. Norsida Man, Associate Professor, Department of Agriculture Technology, Faculty of Agriculture, Universiti Putra Malaysia (UPM)
• MYANMAR: Dr. Nyein Nyein Htwe, Agricultural Extension Specialist, Yezin Agricultural University (YAU), Nay Pyi Taw; Dr. Khin Oo, Retired Professor of Agriculture; and Dr. Htet Kyu, ALiSEA National Coordinator for Myanmar.
• THAILAND: Dr. Supawan Visetnoi, Lecturer, Chulalongkorn University School of Agricultural Resources (CUSAR), Bangkok.

4. SESSION THREE: National Case Studies (2) Focal Point Teams CAMBODIA, LAOS and VIETNAM

MODERATOR & RESPONDENT: Prof. Dr. Surichai Wun’Gaeo, Director, Center for Peace and Conflict Studies (CPCS), Chulalongkorn University and Rural Sociologist.
• CAMBODIA: Dr. Buntong Borarin, Vice-Dean of Faculty of Agro-Industry, Royal University of Agriculture (RUA) Phnom Penh, CAMBODIA and Mr. Chun Nimul, Lecturer, Svay Rieng University.
• LAOS: Dr. Saythong Vilayvong, Office of Research and Service, National University of Laos (NUOL) and Dr. Malavanh Chittavong, Faculty of Agriculture, NUOL
• VIET NAM: Dr. Pham Van Hoi, Director, Center for Agricultural Research and Ecological Studies (CARES), Hanoi, Vietnam National University of Agriculture (VNUA) and Dr. Nguyen Thanh Binh, Mekong Delta Development Research Institute, Can Tho University (MDI-CTU)

5. SESSION FOUR: National Case Studies (3) Focal Point Teams INDONESIA and PHILIPPINES

MODERATOR & RESPONDENT: Dr. Chantana Wungaeo, Faculty of Political Science Chulalngkorn University
• INDONESIA, Dr. Siti Amanah, Bogor Agricultural University (IPB) and National Representative GFRAS, with Ms. Epsi Euriga, Faculty/Staff Yogyakarta Agricultural Extension College (STPP Yogyakarta), Ministry of Agriculture; and Dr. Helmi Helmi Professor of Agriculture Development, Agribusiness Department, Faculty of Agriculture, Andalas University, with Mr. Rafnel Azhari, Lecturer/Researcher, Andalas University.
• PHILIPPINES: Dr. Ted Mendoza, Professor, University of the Philippines Los Baños (UPLB) and Dr. Virginia Cardenas, Dean of College of Public Affairs, UPLB and GFRAS, Coordinator, Asia-Pacific.

6. SESSION FIVE: Final Reflections: Expert Presenters and Participants (Open Dialogue/No Papers)

Co-MODERATORS Dr. Wayne Nelles, Visiting Scholar, Chulalongkorn University School of Agricultural Resources (CUSAR), Bangkok, THAILAND with Ms. Ushio Miura, Programme Specialist/Team Leader, Education Research and Foresight, and Chief, Education for Sustainable Development (EDS), UNESCO Bangkok, Asia-Pacific Regional Bureau for Education.

Reflections on:
• Impressions/issues arising from Regional Papers and National Case Studies
• Developing a long-term university extension research and rural service agenda for ASEAN
• Linking project follow-up to global/UN Sustainable Development Goals (SDGs), 2015-2030 and COP 21 Climate Action commitments
• Contributing agri-food system knowledge/expertise to the ASEAN Work Plan on Education, 2016-2020 and other regional policy frameworks with planned outputs
• Gender mainstreaming in extension research, university education and farmer services
• Agricultural ASEAN University Network (AAUN) Maejo University led under AUN Auspices
• University-International Agency, Civil Society and Farmer partnerships
• Building or Improving Agricultural Research for Development (AR4D), Education and Extension Networks across ASEAN and Greater Mekong Subregion (GMS)
• ASEAN-GMS Agriculture Higher Education Policies, Reforms and Capacity development
• University extension capacities and needs in ASEAN and GMS Member States for “Promoting Safe and Environment-friendly Agro-based Value Chains” re “Knowledge Pillar” of new ADB led Core Agriculture Support Program Phase II (CASP2) Strategy and Action Plan, 2018-2022.

7. SESSION SIX: Wrap-up Remarks and Next Steps
Dr. Supawan Visetnoi, Lecturer, Chulalongkorn University School of Agricultural Resources (CUSAR), and Dr. Wayne Nelles, Visiting Scholar, CUSAR, Bangkok, THAILAND
• Publication of Proceedings (with Policy Recommendations)
• Policy Brief (informal document or formal publication summarizing recommendations – TBC)
• Future Policy Dialogue on Research Findings with National Government, Regional and International Agencies in ASEAN and SEAMEO Officials/Experts
• Implementation of National Case Study Recommendations
• Expanding/Growing and Strengthening our Regional Network and Synergies with new Complementary National or cross-national Initiatives
• Planning New Projects and Collaboration

INFORMAL NETWORKING RECEPTION & CLOSING DINNER

Venue :
International House of Chulalangkorn University

san-3
Gambar 1. REGIONAL SYMPOSIUM “Mapping and Assessing University-based Farmer Extension Services in ASEAN through an Agro-ecological/Organic Lens”

 

 

 

 

 

san

 

Gambar 2. SESI EMPAT: Studi kasus (3) Focal Point INDONESIA dan FILIPINA

 

 

 

 

 

 

Gambar 3. Informal Nsan-4etworking Reception & Closing Dinner

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*