Edisi Perdana Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

[SKPM] Untuk meningkatkan publikasi Departemen SKPM telah menerbitkan jurnal sains komunikasi dan pengembangan masyarakat. Pada edisi perdana ini terdapat 9 (sembilan) artikel yang mencirikan mandat keilmuan departemen.

Daftar isi jurnal:
  1. Hubungan antara Kinerja Program CSR dengan Potensi Konflik Sosial di Masyarakat Sekitar Wilayah Pertambangan (Widya Hasian Situmeang, Mahmudi Siwi)
  2. Modal Sosial dan Keberlanjutan Kelembagaan dalam Program CSR PT Tirta Investama di Kabupaten Cianjur Jawa Barat (Chintia Chintia, Fredian Tonny Nasdian)
  3. Analisis Efektivitas Program Pemberdayaan Anak Jalanan di Rumah Singgah Tabayun Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor (Dian Permata Sari, Titik Sumarti)
  4. Partisipasi Petani dalam Pemanfaatan Teknologi Informasi pada Program Agropolitan Belimbing di Bojonegoro (Surya Kinanti, Siti Amanah)
  5. Efektivitas Strategi Komunikasi Pemasaran Sosial Kampanye Sustainable Seafood, WWF-Indonesia (Riski Bayuni Sagala, Yatri Indah Kusumastuti)
  6. Pemanfaatan Internet oleh Penyuluh Pertanian (Putri Eksanika, Sutisna Riyanto)
  7. Dampak Aktivitas Produksi Tambang Semen Tonasa terhadap Perubahan Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Nurlaila Nurlaila, Endriatmo Soetarto)
  8. Analisis Faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan Keluarga dalam Menentukan Penolong Persalinan (Wenny Dwiharyenti, Ekawati Sri Wahyuni)
  9. Kontestasi Pengetahuan Negara, Swasta dan Masyarakat dalam Pengelolaan Program Corporate Social Responsibility (Mahmudi Siwi)

 

SKPM Terbitkan Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

[SKPM] Jurnal ilmiah bermutu yang sesuai dengan SKPM semakin dibutuhkan. Data setinggi 97% Studi Pustaka yang berisi jurnal elektronik, yang ditelaah para dosen pembimbing. Untuk menyediakan rujukan yang berkualitas, maka Departemen SKPM menerbitkan Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (JSKPM).

Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (JSKPM) merupakan jurnal ilmiah yang menyajikan artikel hasil penelitian dalam ilmu sosiologi, antropologi, politik, komunikasi, ekologi manusia, psikologi sosial, agraria, kependudukan, pendidikan, penyuluhan dan pengembangan masyarakat. Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (JSKPM) diterbitkan dalam versi online dan cetak. Jurnal ini merupakan sarana publikasi dan ajang berbagi karya penelitian terkait dengan mandat keilmuan Departemen SKPM.

Mulai tahun ini, skripsi-skripsi yang dihasilkan oleh lulusan SKPM secara khusus dimuat dalam Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (JSKPM). Jurnal terbit 6 kali dalam setahun, dengan isi 7-15 skripsi SKPM. Jurnal juga bisa berisi karya ilmiah lain yang sesuai dengan tema komunikasi, penyuluhan, kajian agraria, kependudukan, ekologi, politik, sosiologi pedesaan, pengembangan masyarakat (seluruh divisi SKPM).

Pendaftaran Ulang Wisuda dan Penyerahan Ijazah Tahap VIII Tahun Akademik 2016/2017

PENGUMUMAN

                          No. 65/IT3.18/DT/2017                           

tentang

Pendaftaran Ulang Wisuda dan Penyerahan Ijazah Tahap VIII Tahun Akademik 2016/2017 Program Pendidikan Doktor (S3), Magister (S2), Profesi Dokter Hewan dan Sarjana (SI)

 

Diberitahukan kepada para calon lulusan bahwa Upacara “Wisuda dan Penyerahan Ijazah” Tahap VIII Tahun Akademik 2016/2017 Program Pendidikan Doktor, Magister, Profesi Dokter Hewan dan Sarjana akan dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 26 Juli 2017 bertempat di Grha Widya Wisuda (Grawida) Kampus IPB Dramaga, dengan rangkaian Upacara “Wisuda dan Penyerahan Ijazah” mulai pukul 07.30 s/d 12.00 WIB.

 

PENDAFTARAN ULANG:

Bertempat di Loket Pelayanan Akademik (LOKET 2), Dit.AP IPB, Gedung Andi Hakim Nasoetion Lantai I, Kampus IPB Dramaga, dimulai tanggal 10 s/d 14 Juli 2017 setiap hari kerja pukul 08.30 s/d 15.00, untuk Pengambilan Undangan Wisuda, Peminjaman Toga, Pemotretan bagi yang belum difoto.

JADWAL PENDAFTARAN ULANG “WISUDA dan PENYERAHAN IJAZAH”

Pendaftaran Ulang “Wisuda dan Penyerahan Ijazah” (pengambilan Undangan dan peminjaman Toga) Program Pendidikan Doktor, Magister, Profesi Dokter Hewan dan Sarjana IPB Tahap VIII Tahun Akademik 2016/2017 di LOKET PELAYANAN, Direktorat Administrasi Pendidikan (Dit. AP) adalah sebagai berikut:

  1. SENIN, 10 Juli 2017 untuk:
  • FAPERTA (A), FKH & PDH (B), FAPET (D), dan
  • Sekolah Pascasarjana.
  1. SELASA, 11 Juli 2017 untuk:
  • FPIK (C), FAHUTAN (E), dan
  • Sekolah Pascasarjana.
  1. RABU, 12 Juli 2017 untuk:
  • FEM (H), FEMA (I)dan
  • Sekolah Pascasarjana.
  1. KAMIS, 13 Juli 2017 untuk:
  • FATETA (F), FMIPA (G), dan
  • Sekolah Pascasarjana.
  1. JUM’AT, 14 Juli 2017 untuk:
  • Calon Wisudawan yang belum mendaftar ulang pada jadwal yang telah ditentukan.

 

Demikian Informasi ini kami sampaikan untuk dapat dilaksanakan sebaik-baiknya.

VACANCY ANNOUNCEMENT FIELD OFFICER FOR INTERNATIONAL RESEARCH PROJECT (with potential for joint PhD supervision)

VACANCY ANNOUNCEMENT FIELD OFFICER FOR INTERNATIONAL RESEARCH PROJECT
(with potential for joint PhD supervision)
Background

The international research project ‘IndORGANIC – The societal transformation of agriculture into bioeconomy – Turning Indonesia organic?’ invites applications for a fulltime position as field officer available immediately. IndORGANIC is a collaborative research project between the University of Passau, Indonesian Organic Alliance, Bogor Agricultural University, and Atma Jaya University in Yogyakarta, which aims at analysing the current state and potential of organic farming in Indonesia to improve food sustainability in the long run. Agriculture is conceptualised as part of a bioeconomy with finite resources and dependent on ecological processes that require management to grow food. Adopting an inter- and transdisciplinary approach IndORGANIC seeks to analyse organic farming as an alternative to highly problematic conventional agriculture from the perspectives of sustainability, society and economy. To this end, the project integrates the analysis of beliefs as a motivator of human behaviour, of gendered institutions (which may benefit the organic sector or put it at a disadvantage), and evaluate the favourable conditions for transition to organic farming by local farmers.

Responsibilities

The candidate is expected to assist the German and Indonesian based research members during the project period by taking care of the following tasks:
1. Assist with coordination, translation and organization on the ground for carrying out the primary qualitative and quantitative data collection

2. Coordinate and enable the gathering of qualitative and quantitative data within the study communities

3. Assist in jointly recruiting, coordinating, and training enumerators in collecting primary qualitative and quantitative data

4. Set up and facilitate contacts with relevant stakeholders concerned with the subject matter, such as government bodies, NGOs, individuals, communities, farmer associations, universities, research institutions, and development organizations

5. Assist in the collection of secondary data and research documented in the Indonesian grey literature

6. Coordinate administrative matters between German based researchers and Indonesian project partners, including financial documentation and budget administration

7. Support in setting up stakeholder workshops and information sharing seminars

8. Support in the reporting and dissemination of outcomes using various media

Requirements
1. Master degree in sociology, geography, anthropology, development economics, or a related field possibly with the ambition to engage in doctoral studies

2. Good knowledge of quantitative and qualitative research methods

3. Experienced in empirical primary and secondary data collection

4. Good command of English

5. Excellent organization and communication skills

6. Experienced in working with local communities and authorities

7. Skills in data analysis, synthesis and provisions of relevant recommendations

8. Knowledge of local socio-economic development is preferable

9. Experienced in working in an intercultural team is preferable

10. Good understanding of organic farming and project area is preferable

Appointment and remuneration

The position of the field officer shall be filled as soon as possible. The post is part time with a flexible working load corresponding to the schedule of the different project activities. It has a fixed term lasting until November 2019. The successful candidate will be stationed at Bogor Agricultural University. Remuneration is in line with pay grade of Indonesian public-sector salary scale, with the applicable social benefits (further details will be provided during the interviews). If desired, the position may lead to undertaking a PhD under joint supervision by the University of Passau and Bogor Agricultural University.

Application procedure

To apply, please send a single pdf file comprising a cover letter, your CV and a letter of motivation to Dr. Viola Schreer (Viola.Schreer@uni-passau.de) no later than 1st of June 2017. Interviews will be held via skype on the 13th and 14th of June 2017.
A more detailed project description can be found at: http://www.wiwi.unipassau.de/en/development-economics/research/indorganic/.
For further information concerning the position, please contact Dr. Siti Amanah (siti_amanah@apps.ipb.ac.id) at the Department of Communication and Community Development Sciences, Bogor Agricultural University, or Dr. Viola Schreer at the Chair of Comparative Development and Cultural Studies – Southeast Asia, University of Passau.

*download pdf

LOKER SKPM Mei 2017

LOKER SKPM Mei 2017

Direktorat Pengembangan Karir dan Hubungan Alumni IPB bekerjasama dengan (Informasi lebih lanjut dapat dilihat pada tautan dibawah ini).

membuka kesempatan bagi lulusan maupun alumni untuk bekerja di perusahaan tersebut.

Program Sinergi S1-S2 tahun akademik 2017/2018

Program Sinergi  S1-S2 tahun akademik 2017/2018

Pendaftaran program sinergi S1-S2 kembali dibuka pada tahun akademik 2017/2018. Sesuai dengan prosedur yang ada, mahasiswa SI semester 6 yang beminat mengikuti program ini dapat mendaftarkan diri melalui departemen homebase masing-masing.
Departemen sudah dapat menyampaikan nama-nama calon peserta kepada Sekolah Pascasarjana IPB paling lambat satu bulan sebelum semester ganjil tahun akademik 2016/2017 dimulai.
Demikian disampaikan, atas perhatian dan kerjasama yang baik kami ucapkan terimakasih.

IPB JOB FAIR 2017

IPB JOB FAIR 2017

Dalam rangka memfasilitasi lulusan perguruan tinggi khususnya lulusan IPB dan memfasilitasi kalangan dunia usaha untuk mendapatkan SDM yang diperlukan, Direktorat Pengembangan Karir & Hubungan Alumni IPB akan menyelenggarakan:

“BURSA KERJA – IPB JOB FAIR 2017”

pada hari Sabtu – Minggu, tanggal 13-14 Mei 2017

bertempat di Gd. Grha Widya Wisuda, Kampus IPB Darmaga Bogor.

Info lebih lanjut dapat mengunjungi tautan berikut http://cda.ipb.ac.id/event/jobfair

 

Lowongan IndORGANIC

VACANCY (LOWONGAN)
 
 
Diperlukan satu orang tenaga asisten peneliti untuk membantu Tim Peneliti mengenai IndORGANIC. IndORGANIC merupakan Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Passau yang didanai oleh Federal Ministry for Education and Research Germany. Kegiatan riset direncanakan berlangsung selama tiga tahun.  Universitas Passau bermitra dengan IPB, Universitas Atmajaya Yogyakarta, dan Aliansi Organik Indonesia. 
 
Info mengenai persyaratan Pelamar terlampir (Summary & TOR). Peminat harus mengajukan Lamaran/Surat Permohonan yang ditujukan ke:
Prof. Dr. Martina Padmanabhan (Team Leader IndOrganic)
c/q. Dr. Siti Amanah (Ketua Departemen SKPM FEMA IPB)
Kampus IPB Dramaga. Bogor
 
Surat lamaran  ditulis dalam Bahasa Inggris, dan hendaknya dilampiri Curriculum Vitae dan Motivation Letter. Surat Lamaran (berkas terulis) dikirim ke Departemen SKPM dan/atau die-mail ke siti_amanah@apps.ipb.ac.id
 
Berkas lamaran selambatnya diterima di Dept SKPM pada 11 April 2017 pk. 15.00WIB.  Bagi calon asisten peneliti yang lolos seleksi penilaian dokumen, akan diwawancarai Tim Rekrutmen Asisten Peneliti,
 
Terima kasih. 
 
 
Sekretariat Departemen SKPM
FEMA IPB – 3 April 2017

APEN International Conference

APEN International Conference

SECOND CALL FOR ABSTRACT

Facilitating Balanced Change for Rural and Urban Communities

Profitability & sustainability, land & sea, private & public, farm & communities

About the conference

The conference is being held jointly with GFRAS (http://www.g-fras.org/en/) and follows the 2017 GFRAS Annual General meeting to be held in Ingham, North Queensland. The conference is an international meeting for rural advisory practitioners, researchers and academics that combines the best extension research and practice from developing and developed countries. In North Queensland we have both wet and dry tropical agriculture and a very large marine park that is managed for a range of uses. We will showcase the integration of production and natural resource management extension in the wet and dry tropics that focuses on achieving outcomes that meet the environmental needs of the rainforest and reef as well as the economic and social needs of dryland and irrigated agricultural production in the tropics. Key conference themes are:

  • Gender balance and affirmative action
  • Planning, monitoring and evaluating
  • Developing agricultural innovation systems
  • Building social capital and resilience
  • Incorporating new media in extension
  • Policies and trends in rural advisory services
  • Achieving health, NRM, production and social outcomes

About APEN

The Australasia-Pacific Extension Network (APEN) is a professional organisation for extension workers and those interested in extension (http://www.apen.org.au/). APEN members are involved in community and rural development, adult education, communication, industry collaboration, industry development, industry services and other related fields. Our network represents over 450 extension professionals across Australia, New Zealand, Papua New Guinea and the Pacific.

APEN conference Call for Abstracts

We are inviting submission of abstracts of potential presentations at the conference. Options for presenting may include oral presentations of approximately 20 minutes, soap box presentations of approximately 10 minutes, poster presentations, workshops, open space and panel discussions. Based on the abstract, your preferences and timeliness of submission and registration, the Conference Program Committee will allocate presentation times and formats. If your paper is accepted for presentation in one of the formats:

  • Presentation option confirmed on program when presenting author registered
  • Abstract will be included in the conference program (early submission improves presentation choice)
  • You will be eligible to publish your paper in the Research or Practice sections of the Rural Extension and Innovation Systems Journal provided it meets the standards required. For information on the journal requirements see: http://www.apen.org.au/rural-extension-and-innovation-svstems-iournal.

Deadlines & submission

>          Authors submit paper to journal for review by conference (only those seeking to publish). Queries

Questions about the conference can be directed to Rosemary Currie APEN Secretariat (info@apen.org.au: +61 2 6024 5349) or Lawrence Di Bella (ldibella@hcpsl.com.au: +61 7 47761808).

SIMPOSIUM REGIONAL “Mapping and Assessing University-based Farmer Extension Services in ASEAN through an Agro-ecological/Organic Lens”

SIMPOSIUM REGIONAL
“Mapping and Assessing University-based Farmer Extension Services in ASEAN through an
Agro-ecological/Organic Lens”

Pada Kamis (23/02), Dr Siti Amanah (Dosen Dept. SKPM FEMA IPB dan Dosen Pascasarjana PS Ilmu Penyuluhan Pembangunan (PPN) IPB disertai salah satu mahasiswa S3 PPN IPB, Epsi Euriga, M.Sc dari STPP Yogyakarta, Kementerian Pertanian, mengikuti Simposium “Mapping and Assessing University-based Farmer Extension Services in ASEAN through an Agro-ecological/Organic Lens” di auditorium utama Chulalongkorn University, Bangkok. Penyelenggara utama acara ini adalah Chulalongkorn University UNISEARCH Fund (“ASEAN Cluster” Project Grant). Simposium ini merupakan kesempatan untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan dari seluruh kawasan ASEAN dan dihadiri lebih dari 38 peserta, termasuk focal point dari Thailand, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Kamboja, Laos, Vietnam, dan Filipina. Acara ini terdiri dari tujuh sesi formal dan satu sesi informal (informal networking dan makan malam).
Simposium ini dilatarbelakangi oleh adanya kekhawatiran akan berkembangnya pertanian modern atau sering disebut sebagai pertanian konvensional yang dilaksanakan dalam skala industri pertanian dengan fokus pada satu jenis komoditi. Hal tersebut menjadi salah satu kontributor terbesar dalam permasalahan lingkungan global: pencemaran, penggundulan lahan, penebangan hutan, kemarau, semakin berkurangan sumber air, pengalihan air, menurunnya biodiversitas, degradasi lahan dan banyak lagi. Pertanian juga berkontribusi terhadap meningkatnya efek perubahan iklim. Industri pengolahan produk pertanian yang menggunakan zat kimia masih belum dapat memenuhi kebutuhan pangan dan keamanan nutrisi bagi 800 juta orang miskin di dunia yang sebagian besar adalah masyarakat pedesaan, termasuk sekitar 60 juta di antaranya berada di Asia Tenggara.

Bagaimana peran universitas dalam mengatasi permasalahan tersebut melalui pelayanan penyuluhan di kalangan petani? Chulalongkorn University School untuk Sumberdaya Pertanian (CUSAR) mencoba menjawab pertanyaan ini melalui penelitian satu tahun yang disebut “Mapping and Assessing University-based Farmer Extension Services in ASEAN through an Agro-ecological/Organic Lens” dengan dukungan dari Chulalongkorn University UNISEARCH Fund (“ASEAN Cluster” Project Grant); Agroecology Learning alliance in South East Asia (ALiSEA); United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO); dan Chula’s ASEAN Studies Center (ASC). Tujuan utama penelitian ini tersebut antara lain adalah : (1) mengetahui peran universitas dalam memperbaiki ataupun memperburuk lingkungan ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan dan tantangan pembangunan pertanian di ASEAN dan berkontribusi untuk transformasi sosial atau pedesaan, (2) memahami melalui bukti empiris kuantitatif dikombinasikan dengan analisis kualitatif yang baik, bagaimana, mengapa dan tingkat derajat universitas Asia Tenggara dalam menghambat atau mendukung pendekatan agro-ekologi dan organik dalam kegiatan pengajaran, penelitian dan penyuluhan, (3) memberikan kebijakan, program, dan rekomendasi kurikulum untuk pendidikan di masa depan, layanan penelitian dan penyuluhan dan perencanaan pembangunan pedesaan dalam menanggapi kesenjangan persepsi pengetahuan dan kapasitas.

Hasil awal dari studi kasus nasional dipresentasikan pada simposium regional ASEAN pada 23 Februari 2017 di Bangkok dan direncanakan akan diedit dan diterbitkan dalam sebuah buku berkualitas baik dari prosiding lokakarya. Simposium regional dimulai dengan pembukaan acara selamat dating oleh tuan rumah dari beberapa elemen Chulalangkorn University dan Department of Agricultural Extension (DOAE), Ministry of Agriculture and Cooperatives (MOAC), Kerajaan Thailand. Dalam pembukaan ini juga disampaikan mengenai Kebijakan DOAE’S Tahun 2017. Sesi pertama mendiskusikan konteks proyek, isu teoritis dan regional ASEAN/MEKONG: perspektif dalam pendidikan pertanian dan jaringan penyuluhan. Spisiakova (APAARI) menyampaikan bahwa jaringan regional memainkan peran aktif untuk advokasi dan manajemen pengetahuan dalam mendukung layanan penyuluhan dan meningkatkan kerjasama selatan-selatan di area ini. Ferrand (ALiSEA) menyampaikan analisis mengenai tren umum regional MEKONG dalam hal kebijakan untuk mendukung agroekologi dan juga beberapa rekomendasi untuk transisi agroekologi. Cardenas (GFRAS) menyatakan bahwa uji coba dan adaptasi alat dan pendekatan yang dilakukan GFRAS dengan sistem penyuluhan berbasis universitas adalah sebuah kesempatan untuk memulai pembelajaran penyuluhan yang baru (The New Extension Learning Kit).

Pada sesi kedua, focal point dari MALAYSIA, MYANMAR, dan THAILAND menyampaikan studi kasus dari masing-masing negara tersebut. Focal point dari Malaysia menggarisbawahi bahwa institusi pendidikan tinggi terutama universitas telah memiliki inisiatif untuk tidak hanya memberikan pendidikan bagi mahasiswanya namun juga terlibat dalam penelitian, layanan pengembangan dan penyuluhan agroekologi atau pertanian organik. Focal point dari Myanmar menyampaikan bahwa terdapat perkembangan yang signifikan dalam hal jumlah lulusan dari pertanian dan orang-orang yang memiliki pengetahuan pertanian mempublikasikan tulisan buku-buku teknis dan artikel dalam jurnal dan majalah dengan bahasa Myanmar, mereka juga menyebarluaskan melalui berbagai saluran informasi. Meskipun demikian hanya sedikit penelitian mengenai agroekologi, sistem pertanian dan pangan organik yang dilakukan oleh fakultas dan mahasiswa dalam area spesifik seperti pupuk organik, systematic rice intensification (SRI), alternative wet & dry system (AWD) dan integrated pest management (IPM). Focal point dari Thailand menyampaikan bahwa institusi pendidikan tinggi seperti universitas merupakan sumber utama dalam membangun kapasitas intelektual dan produksi pengetahuan yang memainkan peran utama yang signifikan dalam berbagai aspek pengembangan nasional dan sektor pertanian di Thailand.

Pada sesi ketiga, focal point dari KAMBOJA, LAOS dan VIETNAM menyampaikan studi kasus dari masing-masing negara tersebut. Focal point dari Kamboja mengindikasikan bahwa saat ini cakupan dan dampak institusi pendidikan tinggi dalam menyediakan layanan penyuluhan dan penelitian pertanian masih sangat minim dikarenakan panduan strategi dan alokasi biaya yang sangat terbatas. Focal point dari Laos menemukan bahwa terdapat hubungan antara Kementerian Pertanian dan Kehutanan Laos dengan universitas dalam mendukung agroekologi atau pertanian organik di Laos. Universitas memiliki fokus pada penelitian dan pengembangan inovasi pertanian serta memberikan pelayanan akademik pada pengembangan komunitas. Promosi pertanian organik mengalami kendala dalam hal biaya produksi yang tinggi, pasar yang terbatas dan sistem sertifikasi. Focal point dari Vietnam menyimpulkan bahwa semakin banyak jaringan untuk pendanaan penelitian dan layanan penyuluhan akan memperkuat pengetahuan praktis bagi para dosen dan peneliti universitas sehingga pengajaran makin efektif dan menarik bagi mahasiswa.

Pada sesi ke-empat, Focal point dari INDONESIA dan FILIPINA menyampaikan studi kasus dari masing-masing negara tersebut. Focal point dari Indonesia menyatakan bahwa universitas memainkan peran yang penting untuk mendukung keberlanjutan pertanian karena sebagai institusi, universitas memiliki mandate untuk melakukan penelitian agar memperoleh pengetahuan dan teknologi sekaligus menempatkan teknologi dan inovasi tersebut dalam hal praktis melalui layanan penyuluhan kepada petani berbasis pendekatan komunitas. Pelayanan penyuluhan berbasis universitas harus diperkuat karena terbatasnya dukungan pendanaan. Dr Siti Amanah dan Epsi Euriga dalam sesi ini menyajikan hasil penelitian yang berjudul “Challenges and Opportunities for Universities-based Agricultural Extension Services from an Agro-ecological/Organic Perspective: the Case of Indonesia.” Dari hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa dukungan dari seluruh stakeholder memiliki korelasi positif yang signifikan terhadap persepsi bahwa agroekologi/pertanian organik merupakan solusi terbaik bagi keberlanjutan ekosistem dan kesejahteraan manusia. Analisis SWOT menunjukkan bahwa penyuluhan pertanian berbasis universitas memiliki kekuatan tertinggi dalam jumlah mahasiswa yang potensial untuk melaksanakan layanan penyuluhan, memiliki kelemahan dukungan dana yang kurang, dengan ancaman produk pertanian berbasis kimia yang lebih menarik petani sehingga petani menunda menerapkan pertanian organik. Kesempatan yang paling memungkinkan adalah dengan memperkuat kolaborasi antara universitas dan stakeholder terkait untuk mempromosikan, mengadakan joint research dan pengembangan pelayanan penyuluhan pertanian dan pertanian organik. Focal point dari FIlipina menyampaikan bahwa agen penyuluhan berbasis universitas memiliki keterbatasan anatara lain pengetahuan yang masih belum memadai, ahli keilmuan masih sedikit, dukungan teknis ke petani tentang pertanian organik masih kurang kecuali yang menginisiasi pergerakan pertanian organik.

Dari sesi kelima (refleksi akhir) dan sesi ke-enam (kesimpulan dan langkah berikutnya) menghasilkan kesimpulan bahwa penyuluhan berbasis universitas seharusnya tidak hanya focus kepada petani namun melibatkan seluruh stakeholder termasuk didalamnya pembuat kebijakan (pemerintah), peneliti, industry, pendidik, petani dan konsumen/pelanggan. Rekomendasi tindakan nyata untuk memperkuat penerapan pertanian agroekologi/ organik oleh petani tidak dapat digeneralisir karena setiap negara memiliki permasalahan dan kondisi yang spesifik. Kolaborasi sangat diperlukan untuk memberikan solusi nyata melalui jaringan internasional penyuluhan berbasis universitas. Pada akhir acara, publikasi prosiding simposium telah disetujui oleh partisipan untuk diterbitkan. Simposium diakhiri dengan acara jaringan informal dan makan malam sebagai penutupan. (Diresume oleh: Epsi Euriga)

Lampiran 1. SYMPOSIUM PROGRAM

1. Welcome and Opening Host Remarks

• Associate Professor, Dr. Kanisak Oraveerakul, DVM, Ph.D., Dean, Chulalongkorn University, School of Agricultural Resources (CUSAR), THAILAND
• Professor Kiat Ruxrungtham, M.D., Vice President for Research and Innovation Chulalongkorn University
• Asst. Prof Dr. Jakkrit Sangkhamanee, PhD. Department of Sociology & Anthropology and Member, Executive Committee, ASEAN Studies Center (ASC) Chulalongkorn University
• Mr. Somchai Charnarongkul, Director General, or Representative, Department of Agricultural Extension (DOAE), Ministry of Agriculture and Cooperatives (MOAC), Kingdom of Thailand

2. SESSION ONE: Project Contexts, Theoretical Issues and ASEAN/MEKONG Regional: Perspective on Agriculture Education and Extension Networks

MODERATOR & RESPONDENT: Mr. Aziz Arya, Policy and Programme Officer, Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), Principal Regional Office for Asia and the Pacific (PROAP), Bangkok.
• Dr. Wayne Nelles, Visiting Scholar, Chulalongkorn University School of Agricultural Resources (CUSAR), Bangkok, THAILAND
• Mr. Pierre Ferrand, Regional Coordinator, Agroecology Learning Alliance in South East Asia (ALiSEA) and Mekong, Regional Office, Vientiane, LAOS; with Dr. Htet Kyu, ALiSEA National Coordinator for Myanmar.
• Dr. Virginia Cardenas, Global Forum for Rural Advisory Services (GFRAS), Coordinator, Asia-Pacific; and Dean of College of Public Affairs, University of the Philippines Los Baños (UPLB)
• Ms. Martina Spisiakova, Knowledge Management Coordinator, Asia-Pacific Association of Agricultural Research Institutions (APAARI), Bangkok, THAILAND

3. SESSION TWO: National Case Studies (1), Focal Point Teams – MALAYSIA, MYANMAR, and THAILAND,

MODERATOR & RESPONDENT: Dr. Narumon Hinshiranan, Representative of the Director, Chulalongkorn University Social Research Institute (CUSRI)
• MALAYSIA: Dr. Norsida Man, Associate Professor, Department of Agriculture Technology, Faculty of Agriculture, Universiti Putra Malaysia (UPM)
• MYANMAR: Dr. Nyein Nyein Htwe, Agricultural Extension Specialist, Yezin Agricultural University (YAU), Nay Pyi Taw; Dr. Khin Oo, Retired Professor of Agriculture; and Dr. Htet Kyu, ALiSEA National Coordinator for Myanmar.
• THAILAND: Dr. Supawan Visetnoi, Lecturer, Chulalongkorn University School of Agricultural Resources (CUSAR), Bangkok.

4. SESSION THREE: National Case Studies (2) Focal Point Teams CAMBODIA, LAOS and VIETNAM

MODERATOR & RESPONDENT: Prof. Dr. Surichai Wun’Gaeo, Director, Center for Peace and Conflict Studies (CPCS), Chulalongkorn University and Rural Sociologist.
• CAMBODIA: Dr. Buntong Borarin, Vice-Dean of Faculty of Agro-Industry, Royal University of Agriculture (RUA) Phnom Penh, CAMBODIA and Mr. Chun Nimul, Lecturer, Svay Rieng University.
• LAOS: Dr. Saythong Vilayvong, Office of Research and Service, National University of Laos (NUOL) and Dr. Malavanh Chittavong, Faculty of Agriculture, NUOL
• VIET NAM: Dr. Pham Van Hoi, Director, Center for Agricultural Research and Ecological Studies (CARES), Hanoi, Vietnam National University of Agriculture (VNUA) and Dr. Nguyen Thanh Binh, Mekong Delta Development Research Institute, Can Tho University (MDI-CTU)

5. SESSION FOUR: National Case Studies (3) Focal Point Teams INDONESIA and PHILIPPINES

MODERATOR & RESPONDENT: Dr. Chantana Wungaeo, Faculty of Political Science Chulalngkorn University
• INDONESIA, Dr. Siti Amanah, Bogor Agricultural University (IPB) and National Representative GFRAS, with Ms. Epsi Euriga, Faculty/Staff Yogyakarta Agricultural Extension College (STPP Yogyakarta), Ministry of Agriculture; and Dr. Helmi Helmi Professor of Agriculture Development, Agribusiness Department, Faculty of Agriculture, Andalas University, with Mr. Rafnel Azhari, Lecturer/Researcher, Andalas University.
• PHILIPPINES: Dr. Ted Mendoza, Professor, University of the Philippines Los Baños (UPLB) and Dr. Virginia Cardenas, Dean of College of Public Affairs, UPLB and GFRAS, Coordinator, Asia-Pacific.

6. SESSION FIVE: Final Reflections: Expert Presenters and Participants (Open Dialogue/No Papers)

Co-MODERATORS Dr. Wayne Nelles, Visiting Scholar, Chulalongkorn University School of Agricultural Resources (CUSAR), Bangkok, THAILAND with Ms. Ushio Miura, Programme Specialist/Team Leader, Education Research and Foresight, and Chief, Education for Sustainable Development (EDS), UNESCO Bangkok, Asia-Pacific Regional Bureau for Education.

Reflections on:
• Impressions/issues arising from Regional Papers and National Case Studies
• Developing a long-term university extension research and rural service agenda for ASEAN
• Linking project follow-up to global/UN Sustainable Development Goals (SDGs), 2015-2030 and COP 21 Climate Action commitments
• Contributing agri-food system knowledge/expertise to the ASEAN Work Plan on Education, 2016-2020 and other regional policy frameworks with planned outputs
• Gender mainstreaming in extension research, university education and farmer services
• Agricultural ASEAN University Network (AAUN) Maejo University led under AUN Auspices
• University-International Agency, Civil Society and Farmer partnerships
• Building or Improving Agricultural Research for Development (AR4D), Education and Extension Networks across ASEAN and Greater Mekong Subregion (GMS)
• ASEAN-GMS Agriculture Higher Education Policies, Reforms and Capacity development
• University extension capacities and needs in ASEAN and GMS Member States for “Promoting Safe and Environment-friendly Agro-based Value Chains” re “Knowledge Pillar” of new ADB led Core Agriculture Support Program Phase II (CASP2) Strategy and Action Plan, 2018-2022.

7. SESSION SIX: Wrap-up Remarks and Next Steps
Dr. Supawan Visetnoi, Lecturer, Chulalongkorn University School of Agricultural Resources (CUSAR), and Dr. Wayne Nelles, Visiting Scholar, CUSAR, Bangkok, THAILAND
• Publication of Proceedings (with Policy Recommendations)
• Policy Brief (informal document or formal publication summarizing recommendations – TBC)
• Future Policy Dialogue on Research Findings with National Government, Regional and International Agencies in ASEAN and SEAMEO Officials/Experts
• Implementation of National Case Study Recommendations
• Expanding/Growing and Strengthening our Regional Network and Synergies with new Complementary National or cross-national Initiatives
• Planning New Projects and Collaboration

INFORMAL NETWORKING RECEPTION & CLOSING DINNER

Venue :
International House of Chulalangkorn University

san-3
Gambar 1. REGIONAL SYMPOSIUM “Mapping and Assessing University-based Farmer Extension Services in ASEAN through an Agro-ecological/Organic Lens”

 

 

 

 

 

san

 

Gambar 2. SESI EMPAT: Studi kasus (3) Focal Point INDONESIA dan FILIPINA

 

 

 

 

 

 

Gambar 3. Informal Nsan-4etworking Reception & Closing Dinner