E: skpm@apps.ipb.ac.id | LINE: @skpm_ipb

Sektor Informal: Gambaran yang Multi Faceted

Sedikit catatan, bahwa sektor informal menyerap 75% angkatan kerja nasional. Sektor ini eksis sejak Orde Baru atau bahkan sejak Indonesia merdeka. Ia hadir sebagai konsekuensi peralihan masyarakat tradisi ke ekonomi industri modern. Proses transformasi tersebut tak selalu mulus sebagaimana dialami juga oleh India, Thailand, Philipina dan negara-negara dunia ketiga lainnya.

1. Krisis Pedesaan

Berawal dari terjadinya krisis pedesaan dimana penguasaan lahan yang menyempit oleh rumahtangga pedesaan yang membuat mereka tak mampu untuk menopang kehidupan minimum (livelihood), telah membuat pressure untuk bermigrasi ke kota meninggi. Mereka yang mencoba peluanga ekonomi di luar pertanian dan di luar pedesaan seraya bermigrasi out serta bertransisi ke sektor modern. Untung tak dapat diraih dan malang tak dapat ditolak, bukan pekerjaan layak di sektor formal yang didapat, mereka akhirnya masuk ke sektor infornal. Sektor ini diisi oleh pekerja di sub sektor perdagangan kakilima, asongan, pedagang pasar tradisional, dan seterusnya sampai sektor UMKM yang biasanya tak masuk ke dalam regulasi formal.

Studi sektor informal di-coin-ed pertama kali oleh Keith Hart tahun 1970an kemudian dilanjutkan oleh kajian para ilmuwan sosial seperti Jan Breman, Deepak Narayan, dan juga sejumlah ekonomi demografi termasuk dari ANU di Australia. Dalam sosiologi ekonomi, tersebutlah juga nama Enzo Mingione yang membahas tentang Fragmented Society untuk menggambarkan bahwa sektor informal seolah “menyempal” dari sektor formal yang normal. Di beberapa negara, sektor informal memang tampak sebagai under-ground economy yang tak tampak di permukaan (karena transaksinya tersembunyi).

2. Sektor Informal: Banyak Faktor

Penyebab munculnya sektor informal banyak faktor. Selain krisis pedesaan, juga ada yang menyebutkan kegagalan negara dalam menghela pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan makro via industrialisasi. Tetapi munculnya sektor informal jelas, tak selalu karena gagalnya industrialisasi terlebih akibat industrial-shut-down atau proses de-industrialisasi yang terjadi karena kebangkrutan. Melainkan sebagian besar faktornya adalah karena suplai tenaga kerja yang terlalu besar dari sektor pedesaan berkualifikasi rendah (SD-SMP). Mereka tak bisa diserap di sektor formal perkotaan terutama subsektor industri modern, karena sektor ini mensyaratkan kualifikasi pekerja berpendidikan tinggi (Sarjana, S2, S3 atau keahlian khusus) untuk bekerja.

3. Penutup

Thesis yang mengatakan bahwa munculnya sektor informal karena gagalnya pertumbuhan ekonomi semata, sering agak misleading. Thesis yang mengatakan bahwa munculnya sektor informal hanya karena kegagalan sektor formal perkotaan pun juga misleading. Lalu apa sebabnya? Semua faktor bekerja dan yang paling kuat adalah karena sektor ekonomi pertanian pedesaan yang tradisional memang tertekan untuk ditinggalkan oleh para warganya yang tadinya berada disana. Sektor infornal adalah fenomena demografi, ekonomi, sosiologi, sekaligus kegagalan para politisi mengantisipasi transformasi ekonomi pedesaan.

Penulis: Arya Hadi Dharmawan | Editor: Mahmudi Siwi

About the author

Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat adalah departemen di Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor yang terakreditasi A oleh BAN PT.

Related Posts

Leave a Reply