Perubahan Sosial di Desa Pertanian Jawa: Analisis terhadap Sistem Penghidupan Masyarakat Tani (Rural Social Change in Java: An Analysis of Peasant’s Livelihood System.)

Dyah Ita Mardiyaningsih

Abstract


The development process in Indonesia puts modernization approach with the emphasis oninnovations for the improvement of people’s economic development. This approach isuniform in all rural areas of Indonesia without looking at the differences in localcharacteristics. One of the programs is the modernization of agriculture known as theGreen Revolution. Based on various researches in Java, the Green Revolution hasresulted in sociological, economical and ecological changes. The sociological aspectindicates the disappearance of traditional social values, system and bonds that previouslyexisted in the society. Economically, commercialization in rural areas has increased,replacing the subsistence economy which was formerly the basis of the people’sagricultural system. The ecological crisis has also risen in the rural areas with the use ofartificial chemical fertilizers and medicines as well as the introduction of excellent hybridor seeds. However, so far not all rural areas have experienced such changes. Somecommunities still maintain the original systems of social institutions as the basis or guidefor their livelihood system. This research with a qualitative approach involving a strategyof socio-historic case study tried to answer to what extent the original social institution ofrural communities could ensure the their system of livelihood. To answer the question, astudy was conducted in Kasepuhan Sinar Resmi (Sukabumi) which represents thecommunities having still strong original social institutions and Dusun Sumurjaya(Subang) which represents modernized rural communities. This study adopted the view ofMahzab Bogor concerning the characteristics of livelihood among rural communities,which are determined by socio-cultural system of local communities with its threeimportant elements: social infrastructure, social structure, and supra social structure. Thethree elements were studied by observing changes in four aspects: livelihood source,livelihood strategies, economic institutions and system of social security assurance inrural communities. Based on the four aspects above, the rural areas with strong originalsocial institutions have the livelihood source dominantly from agriculture and extractionof natural resources, their livelihood strategies preferably adopted are multiple livelihoodsin the form of multiple actors/straddling strategy, their system of economic institution isbased on togetherness in fulfilling the need for food subsistence, and their system ofsocial security assurance depends on social bonds such as patron-client and communalactivities. In this context, the social change in the communities with strong originalsocial institutions tends to be slow in pace. Meanwhile, the rural communities with theiroriginal social institutions tending to disappear or more modernized have a greater varietyof livelihood sources from both agriculture and non-agriculture and thus they alsodevelop more various strategies (agricultural intensification and extensification, doublelivelihood and migration) The system of economic institution in such communities isbased on the activities of individual production which are market-oriented (commercials).The social security assurance for the community members, besides involving thedevelopment of patron-client relationship between farmers and farm laborers which isdisappearing, also relies on external institutions (poverty alleviation programs from thegovernment). Such condition indicates that in modernized communities the rate of socialchange tends to occur rapidly.

Keywords: rural modernization, social change, original social institution, livelihoodresources, livelihood strategy, economic institutions, social security system

Penelitian ini mencoba melihat perubahan sosial di pedesaan di Jawadimana modernisasi pertanian dan pedesaan mendorong dengan sangat kuatperkembangan pedesaan menjadi semakin “maju”. Berbagai programpengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat desaberdasakan berbagai penelitian telah menyebabkan musnahkanya berbagaikelembagaan lokal. Penelitian ini ingin melihat sejauh mana kelembagaan sosialasli di pedesaan mendukung sistem penghidupan masyarakat tani? Untuk itudalam penelitian ini sejumlah pertanyaan diharapkan dapat terjawab yaitu :(a) Bagaimana transformasi sumber nafkah dan sistem budidaya pertanian dipedesaan terjadi?, (b) Bagaimana perubahan strategi nafkah rumahtanggamasyarakat pedesaan?, (c) Bagaimanakah masyarakat pedesaan mengembangkansistem jaminan keamanan sosial untuk memenuhi kebutuhan survivalminimumnya?, dan (e) Bagaimana cara yang ditempuh oleh sistemsosial/masyarakat lokal dalam mempertahankan kelembagaan ekonomi asli?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut penelitian ini dilakukan denganmembandingkan dua komunitas pedesaan. Penelitian yang menggunakanpendekatan kualitatif dan strategi penelitian studi kasus ini dilakukan di dua lokasiyaitu lokasi pertama adalah Kasepuhan Sinar Resmi di Sukabumi yang mewakilimasyarakat pedesaan dengan kelembagaan asli yang masih terjaga. Lokasi keduaadalah Dusun Sumurjaya di Subang yang mewakili masyarakat pertanian padisawah yang sangat besar dipengaruahi oleh desakan modernisasi pertanian.Secara umum penelitian ini menunjukkan bahwa modernisasi pertaniantelah menyebabkan perubahan sosial di pedesaan baik pada sistem budidayapertanian, struktur sosial agraria, pilihan strategi nafkah rumahtangga, sistemjaminan keamanan sosial dan sistem kelembagaan nafkah lokal. KasepuhanSinar Resmi dengan sistem kelembagaan adat yang sangat kuat dan Abah sebagaifigur pemimpin komunitas merupakan yang dipatuhi anggota komunitas mampumenghambat masuknya modernisasi pertanian dan pedesaan dalam komunitas ini.

Modernisasi pertanian yang dicanangkan pemerintah sejak tahun 1970-an denganprogram BIMAS ditolak oleh komunitas ini karena tidak sesuai dengan aturanadat yang hanya membolehkan bertanam padi satu tahun sekali. DEnganpenolakan tersebut sampai saat ini anggota komunitas terjamin ketersediaanpangan dan tidak terpengaruh dengan perubahan ekonomi nasional maupunglobal. Kelembagaan nafkah masih bertahun selaras dengan pelestariansumberdaya alam.Kondisi ini sangat berlawanan dengan kondisi di Dusun Sumurjaya yangsangat rentan terhadap perubahan ekonomi nasional maupun global. Gencarnyapenerapanm program modernisasi pertanian terutama intesifikasi pertanian denganpanca usaha tani melalui program BIMAS, INMAS, INSUS dan SUPRAINSUS telah membantu meningkatkan produksi pertanian. Bahkan inovasi teknologi dibidang pertanian dengan adanya sistem pompanisasi telah merubah pola tanamsatu tahun sekali menjadi tiga kali dalam setahun. Kondisi ini menguntungkan terutama bagi petani dengan lahan yang cukup luas namun meningkatkankemiskinan terutama pada petani dengan luas lahan sempit. Polarisasi dalam pemilikan lahan meningkatkan jumlah buruh tani di pedesaan. Untuk memenuhikebutuhan nafkahnya rumah tangga di Dusun Sumurjaya mengembangkanberbagai strategi nafkah terutama dari luar sektor pertanian. Kelembagaan nafkahlokal hampir sudah tidak ada lagi digantikan dengan kelembagaan modern yangdiharapan mampu memberikan jaminan keamanan sosial bagi anggota komunitas.

Upah dan sistem kontrak merupakan ikatan paling kuat dalam menjalankanaktivitas pertanian. Pasar menjadi faktor yang sangat penting yang berpengaruhterhadap kondisi nafkah rumahtangga. Turunnya atau naiknnya harga pangansangat berpengaruh terhadap kondisi sistem penghidupan masyarakatnya. Danbantuan pemerintah melalui program-program kemiskinan merupakan harapanmasyarakat untuk bisa menjamin kebutuhan hidupnya saat ini.Kasepuhan Sinar Resmi sebagai salah satu contoh pedesaan dengan tipesistem sosial yang relatif tertutup dari luar dan kuatnya sistem kelembagaan sosialasli sebagai pedoman hidup masyarakatnya sampaisaat ini masih mampumempertahankan sistem penghidupan yang selama ini dijalankan masyarakatnya.

Meskipun pengaruh keberadaan pendatang mulai membuka peluang masuknyasumber nafkah yang baru namun laju perubahan sosial yang terjadi berjalandengan sangat lambat. Kondisi ini menunjukkan bahwa pedesaan dengan sistemkelembagaan sosial asli yang masih kuat cukup resisten terhadap sumberperubahan dari luar dan kelembagaan sosial asli masih terpelihara. Hal iniberbeda dengan Dusun Sumurjaya yang merupakan mewakili bentuk pedesaan umumnya di Jawa yang termodernisasi menunjukkan bahwa sistem sosialnya terbuka sehingga intervensi modernisasi masuk secara mendalam dalamkelembagaan sosial asli masyarakatnya. Masyarakat Dusun Sumurjaya kemudian mengalami pemudaran kelembagaan nafkah yang mendorong masyarakatnya menjadi semakin tergantung terhadap sistem ekonomi luar. SEbalikanya padamasyarakat Kasepuhan Sinar Resmi memiliki kelembagaan nafkah dan sistem penjaminan keamanan sosial yang cukup teguh dalam menghadapi kekuatan perubahan sosial.

Downloads: Perubahan Sosial di Desa Pertanian Jawa: Analisis terhadap Sistem Penghidupan Masyarakat Tani


Refbacks

  • There are currently no refbacks.



http://skpm.ipb.ac.id
Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor