E: skpm@apps.ipb.ac.id | LINE: @skpm_ipb

Kepemimpinan Demokratik Mendorong Efektivitas Kinerja SPR

Indonesia mempunyai kekayaan dan potensi sumber daya genetik ternak sapi pedaging nasional, yang telah dimanfaatkan sebagai sumber pangan daging, tenaga kerja, energy, dan pupuk (Riady 2004). Dikarenakan ternak sapi potong memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan penting bagi kehidupan masyarakat serta menjadi mata pencaharian yang digeluti, maka dibentuklah Sekolah Peternakan Rakyat (SPR). Fokus utama pada pembentukan SPR adalah peternakan. Selain peternakan SPR juga terfokus pada aspek sumber daya manusia beserta lingkungan sosial. Mempertahankan sumber daya ternak lokal penting untuk mencapai keamanan pangan yang berkelanjutan.

Terdapat permasalahan utama pada saat ini yaitu, rapuhnya poros-poros ekonomi di Indonesia dikarenakan berkembangnya industri yang tergantung pada bahan buku impor dan sedikit yang menyentuh bagian dasar perekonomian masyarakat luas. Keberhasilan dari sektor peternakan ini bergantung pada ketersediaan dan kemampuan pengelolaan sumber daya peternakan yang terdiri dari ternak, peternak, modal, lahan, lingkungan serta teknologi. Peternak juga adalah subyek dalam usaha peternakan (Rahardi & Hartono 2013), sehingga dapat juga disebut sebagai manager. Namun, masih memiliki keterbatasan, (Sumarno 2000) dalam hal tersebut: (1) pengetahuan dan adaptasi; (2) inovasi untuk diversifikasi usaha; (3) lahan dan kepemilikan lahan; dan (4) lingkungan budaya yang berdampak pada terjadinya struktural sistem sosial yang tidak optimal.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Darmawan dan Saleh (2017) menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan demokratik mendorong efektivitas kinerja SPR. Menurut White dan Lippit dalam Reksohadiprodjo dan Handoko (2001), gaya kepemimpinan demokratik merupakan gaya kepemimpinan ini memiliki ciri yaitu, semua kebijaksanaan terjadi pada kelompok diskusi dan keputusan diambil dengan dorongan dan bantuan dari kelompok, kegiatan-kegiatan didiskusikan, langkah-langkah umum untuk tujuan kelompok dibuat dan bila dibutuhkan petunjuk-petunjuk teknis, pemimpin menyarankan dua atau lebih alternatif prosedur yang dapat dipilih, para anggota bebas berkerja dengan siapa saja yang mereka pilih dan pembagian tugas ditentukan oleh kelompok, dan pemimpin adalah obyektif atau “fack-mainded” dalam pujian dan kecamannya dan mencoba menjadi seorang anggota kelompok biasa dalam jiwa dan semangat tanpa melakukan banyak pekerjaan.

Merujuk hasil penelitian ini, untuk meningkatkan kinerja SPR maka diperlukan ketua kelompok atau pemimpin yang memiliki gaya kepemimpina demokratik.

Secara lengkap bisa dibaca disini: Relations Between Leadership Style and Communication Patterns with Effective Performance of Representative Livestock Owner Force Case: Farm School in Bojonegoro District

About the author

Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat adalah departemen di Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor yang terakreditasi A oleh BAN PT.

Related Posts

Leave a Reply

*